Gindonadapdap's Blog

Just another WordPress.com weblog

Benarkah Boediono Neolib ?

Sejak dicalonkan menjadi Cawapres oleh SBY, perdebatan tentang Boediono menjadi seru. Banyak kalangan menilainya sebagai seorang neolib tulen. SBY, Boediono dan Partai Demokrat pun jadi sibuk menjelaskan bahwa SBY-Boediono tidak memilih ekonomi neolib tetapi ekonomi jalan tengah. Pertanyaannya adalah apakah seorang Boedino benar-benar Neolib?

Di bawah ini saya ketik ulang sebuah dialog antara Stiglitz dengan Boediono, yang menyimpulkan bahwa Boediono lebih liberal dari Stiglizt yang berasal dari negeri kampiun liberal.

Beda Stiglitz dan Boediono

Ada yang menarik dalam dialog antara Joseph Stiglitz dan Boediono dalam sebuah seminar di Jakarta baru-baru ini.

Joseph Stigliz adalah ekonom asal Amerika Serikat yang memperoleh gelar doctor dari Massachusetts Institute of Techonolgy (MIT) 1967. Ia meraih anugerah Nobel Ekonomi 2001 atas karyanya menggali ketidaksimetisan informasi (asymmetric information) sebagai satu-satu penyebab kegagalan pasar (market failures).

Boediono juga adalah ekonom dan guru besar di Universitas Gadjah Mada. Ia pun memiliki gelar doctor dari Wharton School, University of Pennsylvania pada 1979. Kini, ia menjadi Menteri Koordinator Perekonomian RI.

Pertemuan keduanya menarik ketika menyinggung tentang pengaruh ideology dalam pengambilan kebijakan. Menurut Boediono, Pemerintah Indonesia bersikap pragmatis. “Kami hampir tidak peduli pada label-label ideology. Menjadi tidak produktif jika kita mencari jawaban atas persoalan riil melalui perdebatan ideologis,” ujarnya.

Menanggapi hal itu, Stiglitz menukas bahwa pragmatism tidak dapat dilepaskan dari konteks ideology, karena ia menyajikan pandangan mendasar tentag bagaimana peran pemerintah seharusnya. Dengan kata lain, Stiglitz hendak mengatakan bahwa kebijakan tak mungkin bersifat “netral”.

Sejak 1980-an, ilmu ekonomi sering menyatakan dirinya bagian dari positivism. Dengan menggunakan ramuan matematik dan statistika dalam ekonometrika, ilmu ekonomi hendak mengemukakan bahwa kajiannya bersifat “bebas nilai”.

Padahal, segala bidang ilmu tak dapat lepas dari akar-akar filsafat, termasuk ilmu ekonomi. Sistematika filosofis itulah yang disebut sebagai ideology ; yaitu seperangkat gagasan yang menentukan cara pandang, alat analisis dan pengambilan kesimpulan terhadap suatu masalah. Ideology yang berbeda akan berujung pada kesimpulan dan pilihan kebijakan yang berbeda. Karena itu, tak heran bila Stiglitz langsung “mengoreksi” Boediono bahwa mau tak mau pemerintah harus bersikap ideologis dalam mengambil kebijakan, sehingga dapat memilih pemihakan yang jelas serta berperan efektif dan tegas.

Pengalaman Stiglitz ketika menjadi Ketua Dewan Penasihan Ekonomi AS dimasa Presiden Clinton, dapat menjadi rujukan. Clinton mewarisi perekonomian yang lesu dan tingkat pengangguran yang tinggi dari Ronal Reagan akibat kebijakan neoliberalisnya selama dua caturwarsa. Ketika Stiglitz dipanggil oleh Clinton menjadi Penasihat Ekonominya, bandul kebijakan ekonomi AS pun berubah. Peran pemerintah yang selama kepemimpinan Reagan dipangkas luar biasa kembali ditingkatkan. Menurut Stiglitz, adagium the best government governs less (pemerintah yang terbaik memerintah sedikit) tak tepat. Ia berpendapat, pemerintah yang baik tak harus besar atau kecil, melainkan efektif. Terhadap tudingan kaum neoliberal yang berkata swasta lebih penting dari pemerintah, Stiglitz menjawab, “Bagaimanapun, pemerintah memiliki legitimasi public dan kekuasaan sah yang tidak dimiliki oleh swasta.” Itu dikemukakannya dalam esai berjudul Redefining the role of the state : What should It do ? How Should It Do It? And How Should These Decision be Made? (1998).

Menurut Stiglitz, peran pemerintah haruslah aktif untuk mengoreksi kegagalan pasar. Terutama dalam menghadapi globalisasi neo-liberal saat ini, Stiglitz merekomendasikan agar mereka, khususnya Negara-negara berkembang, berperan aktif supaya manfaat ekonomi tidak melulu kembali ke Negara-negara maju dan untuk melindungi orang-orang yang kalah dan tersingkirkan di arena global. Pemerintah tak boleh hanya mant pada pasar.

Berkat resep-resepnya, AS pada masa Clinto dapat bangkit. Ekonomi kembali tumbuh. Pengangguran dan kesenjangan ekonomi diperkecil. Selama sepuluh tahun AS menikmati masa-masa keemasan ekonomi yang gemilang. Tak heran, berkat kesuksesan itu, Clinton dapat lepas dari pemakzulan (impeachment) yang digelontarkan lawab politiknya atas isu seksual dengan Monica Lewinsky.

Kembali ke dialog Stiglitz – Boediono. Sungguh ironis bahwa Boediono yang menjadi menteri di negeri Pancasila yang masih belum sepenuhnya sembuh dari krisis ekonomi, justeru berpandangan lebih liberal daripada Stglitz yang berasal dari negeri kampiun liberalisme.

(dikutip dari buku Martin Manurung, TRANSFORMASI, 2008, halaman 141-143).

June 6, 2009 - Posted by | Uncategorized

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: