Gindonadapdap's Blog

Just another WordPress.com weblog

KUMPULAN KRONOLOGIS :KECELAKAAN KERJA DI PERKEBUNAN-PERKEBUNAN SUMUT

Supiono (45 tahun-bukan nama sebenarnya) salah seorang buruh tetap (SKU) sudah bekerja 12 di PTPN II tepatnya di estate Sawit Seberang tetapi bidang kerjanya berpindah-pindah. Awalnya pembabat, kemudian serabutan dan 3 bulan terakhir di bidang pemanenan.

Sekitar bulan pebruari 2008, seperti biasa Ia berangkat kerja dengan perlengkapan kerja dodos, angklong. Perlengkapan pelidung kerja hanya sepatu boot tanpa menggunakan pelindung tangan (kaos), pelindung mata (kacamata) dan pelindung kepala (helm). Tinggi pohon sawit yang akan di panen masih 2 meter, tetapi ancaknya miring (tidak rata) dan pohon sawit bengkok (tidak lurus) sehingga menyulitkan proses memanen. Pengakuanya ia belum biasa memanen di ancak yang demikian.

Tepatnya sekitar tengah hari ia mengalami kecelakaan kerja, ketika saat mendodos tandan buah segar (TBS) berat komedil sekitar 15-20 kg jatuh ke batang pohon lalu ketanah kemudian berguling dengan cepat sehingga tidak sempat menghindar akhirnya menimpa mata kaki dan pengelangan kakinya. Ia menganggap kecelakaan biasa sehingga tidak dilaporkan ke perusahaan.

Selang 1 hari kakinya mulai bengkak, tapi masih memaksakan diri pergi kerja dan setelah pulang kerja kemudian ia pergi ke tukang urut. Tapi esok harinya tidak ada gejala untuk sembuh sehingga ia bingung. Atas saran temannya sesama buruh agar ia cepat melapor ke mandor atau asisten kebun. Ia pun menuruti saran temanya dan melapor ke mandor untuk diperiksa di klinik. Sampai di klinik setelah diperiksa perawat, kemudian disarankan ke rumah sakit rujukan. Setelah diperiksa Dokter ternyata pergelangan kakinya retak dan harus diopname selama 2 minggu. (Hasil investigasi CO KPS, 24 pebruari 2008)

Pak Syamsul(56 tahun-bukan nama sebenarnya) yang sebentar lagi akan memasuki pensiun dengan masa kerja 18 tahun di PT Lonsum Langkat tepatnya di Turangi Estate. Kini Pak Syam tidak lagi bekerja sebagai pemanen tetapi ditugaskan sebagai pekerja khusus untuk mencangkol jalan dan selokan, karena dari segi usia sudah uzur, sedang memasuki usia pensiun dan sebagai dampak kecelakaan kerja yang pernah dialaminya.

Kecelakaan yang pernah dialaminya terjadi 5 tahun yang lalu tepatnya tahun 2003. Ketika bekerja Pak Syam tidak pernah memakai pelindung kerja yang lengkap, hanya sepatu boot yang diberikan pihak perusahaan. Diakui olehnya selain sepatu boot, perusahaan juga memberikan kacamata. Tetapi karena kacamata yang diberikan menurut Pak Syam justru memperlambat proses kerja karena selalu saja ada butiran embun yang mengumpul di lensa, gampang berair yang mengaburkan pandangan, sementara target kerja harus dipenuhi.

Alat atau benda yang menyebabkan kecelakaan adalah daun pelepah sawit dan kotoran berondolan. Sejak pagi bekerja sampai wolon (istirahat) kondisinya baik-baik saja. Sesudah wolon beberapa jam berikutnya, Pak Syam memotong daun pelepah terlebih dahulu yang bisa mengganggu pemotongan buah sawit. Ketika daun pelepah dipotong, pak Syam mengambil jarak yang aman dari posisi jatuhnya pelepah. Ketika mengambil jarak, beliau tidak sadar dibelakangnya ada lobang yang akhirnya membuat kaki dan badanya terjatuh. Pada saat jatuh terlentang itulah daun pelepah tadi menimpa dan mengenai pelipis mata sebelah kanan hingga mengeluarkan darah. Setelah itu beliau melapor mandor dan langsung ke klinik. Petugas klinik kemudian menjahit pelipis matanya yang robek. Setelah itu disuruh berobat jalan dengan metode kontrol selama seminggu.

Suparwati (45 tahun – bukan nama sebenarnya), mulai masuk kerja sejak tahun 1999 di PT Socfindo Mata Pao Serdang Bedagai. Kurang lebih 8 tahun ia telah melakoni pekerjaan sebagai penyemprot tanpa ada rotasi kerja. Awalnya Suparman mengatakan di bagian pundak juga mengalami gatal dan luka karena tetesan dari racun yang diangkat di punggungnya. kemudian gugur rambut, mata kabur diakibatkan terkena racun pada saat menyemprot. Suparwati mengaku, kini matanya kabur dan hanya memiliki jarak pandang sampai 2 (dua) meter. Dan sekarang dia harus menggunakan kacamata.

Kalau dulu pandangan jelas, sekarang kalau pergi harus menggunakan kaca mata. Kadang kalau mata sakit, dipake juga bekerja. Suparwati juga menjelaskan kalau mata di sebelah kiri sudah mencapai minus 3, sedangkan mata sebelah kanan mencapai minus 4. Suparwati juga mengaku akibat meracun, dia tidak teridentifikasi sudah hamil 6 bulan. Sehingga pada saat hamil dia menyemprot terus, pada saat melahirkan anaknya hanya seberat 7,5 ons (tidak sampai 1 kilo).

Pernah dia mencek kehamilan ke dokter kebun, pihak rumah sakit mengatakan dia tidak hamil, hanya sakit biasa saja, sampai di cek ke rumah sakit Medan (Elisabeth) tetap dikatakan tidak hamil. Katanya tidak apa2, sampai ke rumah sakit Gleneagles, dikatakan hanya sakit, setelah itu pulang ke rumah periksa dukun kampung, baru dikatakan hamil, sehingga saya berhenti bekerja semprot. Dahulu mereka masih diberikan susu sebanyak 1 kaleng dalam setengah bulan, kalau sekarang sudah tidak dapat susu, sekarang yang didapatkan adalah baju dan sepatu, baju diberikan 1 kali dalam 3 bulan sedangkan sepatu 1 kali dalam 6 bulan. Sementara alat seperti sarung tangan tidak diberikan. Masker juga tidak diberikan, sehabis bekerja Suparwati merasakan mulutnya pahit, tetapi dia mengatasi dengan meminum teh manis. Masker dan kaca mata tidak dikasih. Sementara alat seperti sarung tangan tidak diberikan. Masker dan kaca mata tidak dikasih. Pernah mereka meminta masker dan kaca mata dengan cara berontak, tetapi yang diberikan hanya masker yang tipis, sedangkan kacamata tidak diberikan. Masker yang diberikan hanya masker yang tipis dan tembus. (Hasil Investigasi CO KPS, Maret 2008)

Sofian(bukan nama sebenarnya). Tak sedikitpun terbesit di benak Kadijah , senin pertengahan Mei 2007 kehilangan Sofian suami tercinta. Seperti biasa pasangan suami istri ini berangkat menuju tempat kerja (ancak). Sofian (52 tahun) adalah salah seorang buruh bekerja lebih dari 25 tahun di perkebunan PT Lonsum Tbk wilayah Langkat tepatnya di divisi Turangi Estate. Pagi itu Sofian masih mengkayuh sepeda dan istrinya duduk dibelakang sembari memegang kereta sorong. Sampai di ancak suami istri bekerja sebagaimana biasanya. Mentari semakin naik, waktunya wolon (makan siang). Pasangan ini pun siap menyantap makanan yang telah disiapkan dari rumah. 30 menit mereka istirahat kemudian Supardi melanjutkan pekerjaanya mengegrek sawit dengan ketinggian pohon sekitar 15-20 meter, agar dapat mengejar target sesuai dengan ketentuan perusahaan serta premi yang diharapkan apabila melampaui target. Sementara istri membereskan sisa makanan. Tiba-tiba Kadijah dikejutkan dengan suara minta tolong. Ia pun terjaga dan mendekati suaminya. Ternyata suaminya telah terkapar tepat disebelahnya pelepah sawit. Kemudian dengan bantuan buruh lainya korban dibawa ke klinik kebun. Sofian tak bergerak, tiada lumuran darah. Namun setelah perawat membuka bajunya ternyata di dada kirinya berbentuk diagonal luka dalam. Sofian tak tertolong ternyata ia telah meninggal dunia. (Hasil investigasi KPS, 28 September 2007)

May 30, 2009 - Posted by | Uncategorized

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: